Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pesut Mahakam "Mamalia Air Tawar yang Hampir Punah"

Apa sebetulnya pesut Mahakan?

Pesut Mahakam adalah mamalia air tawar yang kini terancam punah. Mamalia ini hidup di Sungai Mahakam yang terletak di Kalimantan Timur (Kaltim) atau di Sungai Kapuas Kalimantan Barat (Kalbar). Dilansir Indonesia.go.id pada 2019 Pesut Mahakam tercatat tinggal 80 ekor, sebagian besar berada di Kaltim dan sebagian kecil di Kalbar. Selain di Kaltim dan di Kalbar sebenarnya pesut juga hidup di Jawa atau yang dikenal dengan pesut Jawa, sayangnya pesut Jawa ini sudah lama punah akibat habitat mereka terganggu, Pesut Mahakam memiliki nama latin Orcaella brevirostis.

Pesut Mahakam adalah mamalia air (bukan ikan) yang hidup di sungai air tawar daerah tropis dan hidup dengan cara berkelompok (6-9 ekor). Pesut di Indonesia berkerabat dekat dengan pesut yang terdapat di Asia Tenggara dan Asia Selatan, juga Australia. Jenis pesut ini juga hidup di Sungai Ayeyarwaddy di Myanmar dan Sungai Mekong di Kamboja dan Laos, serta punya nama latin Orcaella fluminalister. Word Wild Fund (WWF) menyebut hewan ini sebagai Irrawaddy dolphin.

Pesut Mahakam "Mamalia Air Tawar" di Sungai MAHAKAM
Pesut Mahakam "Mamalia Air Tawar" di Sungai MAHAKAM

Seperti Apa atau ciri-ciri Pesut Mahakam

Umumnya Pesut Mahakam berwarna putih keabu-abuan dengan kepala cenderung bulat seperti umbi serta tidak memiliki hidung. Ciri-ciri Pesut Mahakam memiliki tubuh yang lurus, bulat dan tegap. Jika dilihat lebih detail pesut Mahakam sebenarnya tidak mirip dengan lumba-lumba yang punya moncong memanjang. Selain itu, pesut Mahakam juga memiliki bentuk mata yang kecil atau sipit serta sirip punggungnya juga kecil berbentuk segitiga dan sedikit agak bulat. Jumlah gigi yang dimiliki pesut Mahakam berjumlah 17 s/d 20 buah gigi di bagian atas, dan 15 s/d 18 gigi di bagian bawah dengan ukuran gigi cenderung kecil kira-kira berukuran 1 cm. Seperti mamalia air lainnya, Pesut Mahakam juga menyemburkan air melalui lubang di atas tubuhnya.

Menurut Animal Diversity, Pesut Mahakam mempunyai ukuran panjang 1,5-2,8 meter dan berat tubuh 114-135 kg. Berat pesut yang baru lahir adalah sekitar 12,3 kg. Pesut Mahakam ini mampu hidup hingga umur 28 hingga 30 tahun. Kemudian organ reproduksinya sudah matang pada usia sekitar 3 tahun. Pada saat Pesutahakam hamil ia akan menjalani kehamilan selama 9 sampai 14 bulan dan hanya melahirkan satu pesut saja. Pesut betina mempunya periode natal selama 3 tahun yang berarti ia hanya bisa hamil dan melahirkan satu bayi setiap 3 tahun. Karena hal inilah yang membuat jumlah Pesut Mahakam tidak bisa terlalu banyak dalam satu komunitas.

Pesut juga dikenal sebagai perenang yang lamban, karena mereka hanya mampu berenang 25km/jam. Sementara itu jenis pesut yang juga mirip dengan pesut Mahakam adalah Orcaella heinsohni yang hidup di Papua Nugini dan Australia. Perbedaan mendasar dari pesut Australia dan pesut Mahakam adalah terletak pada warnanya, biasanya pesut Australia punya tiga warna, sedangkan pesut Mahakam hanya punya dua warna saja. Selain itu mereka juga punya tengkorak dan sirip yang berbeda.

Para Peneliti Menyebut Populasi Pesut Mahakam Semakin Terancam

Kekhawatiran banyak pihak soal pesut Mahakam yang juga disebut dengan Pesut Etam ini adalah jumlahnya yang kian menyusut dari waktu ke waktu. Jika dahulu pernah terlihat di wilayah Kalbar, Kaltim, Kalsel dan Kalteng, kini mereka hanya terlihat sesekali di Kalbar dan Kaltim.

Peneliti Yayasan Konservasi "Rare Aquatic Species of Indonesia" (RASI) Danielle Kreb mengatakan pada 2017 lalu bahwa populasi pesut Mahakam saat ini semakin terancam. "Hingga saat ini, populasi Pesut Mahakam diperkirakan tersisa 75 hingga 80 ekor dengan wilayah jelajah hanya kawasan sungai di Kabupaten Kutai Kartanegara," ujar Danielle Kreb, dilansir Antara pada 2017 lalu.

Danielle mengatakan pada 1997, metode yang digunakan untuk mengetahui jumlah populasi pesut Mahakam, dilakukan berdasarkan pengamatan kerapatan dan penyebaran. Kemudian pada periode 2005 hingga 2016, metode yang digunakan yakni melalui penghitungan sirip. "Jumlahnya tidak bisa dipastikan sehingga masih perlu dilakukan penelitian mendalam sebab metode yang kami gunakan sejak 2005 sampai 2016, juga masih mungkin eror atau terjadi kesalahan. Kami pernah menghitung jumlah tertinggi hingga 90 ekor," ucap Danielle Kreb.

Peneliti asal Belanda yang mulai melakukan pengamatan terhadap pesut Mahakam sejak 1997 itu mengatakan, ancaman paling tinggi terhadap satwa yang paling terancam punah di Indonesia tersebut yakni jaring nelayan hingga aktivitas ponton. Ia menyebut, aktivitas ponton, baik milik perusahaan perkebunan kelapa sawit maupun tambang batu bara di anak Sungai Mahakam menjadi ancaman pada populasi pesut Mahakam tersebut.

"Pesut Mahakam banyak mencari makan di anak-anak sungai karena lebih mudah menangkap ikan dibanding pada sungai yang luas. Namun, saat ini sudah banyak aktivitas ponton di kawasan tersebut sehingga menjadi ancaman bagi mamalia air tawar itu," tutur Danielle Kreb.

Pesut Mahakam "Mamalia Air Tawar" di Sungai MAHAKAM
Pesut Mahakam "Mamalia Air Tawar" di Sungai MAHAKAM

Pesut Mahakam Termasut dalam Jenis Hewan/Satwa diLindungi

Berdasarkan UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya serta PP Nomor 7 Tahun 1999, pesut Mahakam merupakan jenis satwa dilindungi. Aturan perlindungan terhadap hewan ini juga datang dari International United of Conservation Nature and Natural Resources (IUCN) atau lebih dikenal sebagai Badan Konservasi Internasional. Lembaga ini menetapkan pesut Mahakam sebagai satwa kristis dan terancam punah (critically endangered species).

Pesut ini tidak punya predator alami, sehingga kepunahan mereka cenderung karena rusaknya habitat sehingga daya tahan hidup mereka juga menurun. Di Danau Semayang-Kukar misalnya, pesut ini kian sedikit jumlahnya karena permukaan danau sering penuh dengan enceng gondok. Ini membuat mereka kesulitan mendapatkan makanan yang berupa ikan kecil, moluska (hewan lunak seperti siput) dan krustasea (udang-udangan).

Posting Komentar untuk "Pesut Mahakam "Mamalia Air Tawar yang Hampir Punah""