Filosofi Pendidikan KI HADJAR DEWANTARA, Makna dan Tujuan Pendidikan
| Filosofi Pendidikan KI HADJAR DEWANTARA, Makna dan Tujuan Pendidikan |
Sebelumnya, apa itu FILOSOFI??, Filosofi berasal dari kata Philos yang berarti cinta, dan Sophia yang berarti kebijaksanaan. Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani, yang mana kata itulah yang menjadi asal muasal kata dari filosofi atau filsafat. dari keterangan tersebut, Filosofi berarti cinta akan kebijaksanaan. Dan dari sinilah filosofi dikatakan sebagai ilmu yang menjadi dasar dari semua ilmu yang menjadi panutan semua manusia. Tanpa adanya sebuah filosofi maka dapat dipastikan ilmu yang lain tidak akan berkembang. Filosofi dapat sangat berguna untuk mengentaskan manusia dari kehilangan jati dirinya yang memiliki sebuah arah dan tujuan.
Filosofi dalam pendidikan mencakup suatu kebijakan-kebijakan pendidikan baru, mengusulkan cita-cita yang baru tanpa mempertimbangkan persoalan-persoalan filosofis seperti hakikat kehidupan yang baik, kemana pendidikan itu diarahkan. Sebuah filosofi memiliki bagian yang penting, yaitu mencari sebuah norma-norma serta tujuan. Oleh sebab itu, filosofi dapat mendorong manusia dalam memperluas bidang kesadaran untuk menjadi lebih baik, menjadi lebih cerdas dan lebih aktif. Selain itu, filosofi juga dapat menumbuhkan keyakinan akan agama dengan pondasi yang matang secara intelektual dalam setiap diri manusia. Keterkaitan dengan agama yaitu, suatu keharmonisan, penyesuaian, tanggung jawab, komitmen, pengabdian, perdamaian, kebijakan, keselamatan, serta tentang Tuhan.
Ki Hadjar Dewantara adalah Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Gelar tersebut disematkan karena beliau merupakan seorang tokoh yang tanpa tanda jasa ikut berperan penting dalam memerdekakan Indonesia. Pengabdian yang beliau berikan sangatlah besar terhadap bangsa kita ini. Banyaknya karya beliau yang menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangga terhadapnya sering beliau lakukan. Bahkan saking begitu banyaknya membuat Indonesia bangga, tanggal lahir Ki Hadjar Dewantara ditetapkan menjadi hari Pendidikan Nasional. Hari dimana seseorang yang dilahirkan untuk memerdekakan pendidikan di negara Indonesia. Dengan kepintaran, kebijaksanaan, tekun dan keberaniannya memerdekakan hak-hak dari orang lain dan bangsanya melawan penjajah pada masa itu.
Ki Hadjar Dewantara terlahir dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ki Hajar Dewantara lahir dan wafat di Yogyakarta. Beliau lahir pada tanggal 2 Mei 1889 dan wafat di usia 69 tahun pada tanggal 26 April 1959. Nama kecil beliau adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Suwardi Suryaningrat), kemudian sejak tahun 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara (Ki Hajar Dewantara), beberapa orang menuliskan dari bunyi bahasa Jawanya yaitu Ki Hajar Dewantoro. Beliau merupakan aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan menjadi pelopor pendidikan bagi masyarakat pribumi Indonesia pada zaman penjajahan kolonial Belanda.
Ki Hajar Dewantara adalah ELS, yaitu sebuah sekolah dasar di Eropa. Kemudian beliau sempat melanjutkan sekolah ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat dikarenakan sakit. Kemudian, beliau bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masa itu, beliau tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat anti-kolonial. Banyak karya-karya yang telah dimiliki beliau.
| Filosofi Pendidikan, Ing Ngarso Suntulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani |
Sudah berbagai macam cara yang dilakukan Ki Hajar Dewantara demi untuk memperjuangkan kemerdekaan pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah dengan seringnya mengubah namanya sediri. Hal tersebut beliau maksudkan untuk menunjukkan perubahan sikapnya dalam melaksanakan pendidikan, yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria yaitu dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negaranya. Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan dalam kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai figure atau model keteladanan, baru kemudian setelah itu sebagai pengajar. Oleh karena itu, nama Hajar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, dan keutamaan.
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan hidup dalam tumbuhnya anak-anak. Tujuannya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak tersebut agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Dengan berbagai ide yang dimiliki oleh Ki Hajar Dewantara, ada satu konsep yang terlupakan, yaitu Ki Hajar pernah melontarkan konsep belajar 3 dinding. Kalau kita mengingat masa lalu ketika kita masih di bangku sekolah, bentuk ruang kelas kita rata-rata adalah persegi empat. Ki Hajar menyarankan ruang kelas itu dibangun dengan 3 sisi dinding saja, dan ada satu sisi yang terbuka. Konsep ini memiliki segi filosofis yang tidak main-main. Dengan ada satu dinding yang terbuka, maka sekolah hendak menegaskan tidak ada batas atau jarak antara di dalam kelas dengan realita yang ada di luar.
Coba bandingkan dengan bentuk kelas kita dulu, empat dinding tembok, dengan jendela yang tinggi-tinggi, sehingga kita yang masih kecil tidak akan bisa melihat keluar. Lalu biasanya di dinding digantungi foto-foto pahlawan perang, dari Pattimura, Teuku Umar, pangeran Diponegoro sampai Sultan Hasanudin. Jarang sekali ada yang memasang foto pujangga masa lalu seperti Buya Hamka, Ranggawarsito, Marah Rusli, dan lain sebagainya. Paling-paling pujangga yang diketahui dan diingat anak-anak SD adalah WR Supratman.
Konsep menyatunya kelas tempat belajar dengan realitas yang ditawarkan Ki Hajar dewantara tersebut mungkin memang bukan orisinil dari Beliau. Ada kemungkinan konsep tersebut sudah ada sebelumnya, sebelum Ki Hajar dewantara hidup. Namun ketika Ki Hajar dewantara merumuskan konsep ini dengan istilah 3 dinding, menunjukkan bahwa, betapa luasnya wawasan Beliau dan mampu mengadaptasi konsep tersebut ke dalam budaya Indonesia.
Banyak karya-karya beliau yang menjadi landasan bagi rakyat Indonesia dalam mengembangkan pendidikan, khususnya kalimat filosofis (selain dari konsep 3 dinding diatas) seperti ING NGARSO SUNTOLODO, ING MADYO MANGUN KARSO, TUT WURI HANDAYANI (Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan). Semboyan yang paling terkenal yaitu “TUT WURI HANDAYANI” yang selalu tertempel di topi, dasi, dan tidak jarang juga di dada setiap siswa siswi Indonesia dari Sekolah Dasar(SD) sampai SMU.
Pada tahun 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Yaitu sebuah lembaga yang pertama kali menjadi motivator bagi warga negara Indonesia demi melanjutkan kemerdekaan yang akan menjadi proses kemerdekaan kita sekarang ini. Sejak awal berdirinya, Taman Siswa memiliki semboyan yang tertera diatas. Semboyan yang sering dipertanyakan oleh berbagai peserta didik saat ini. Apa makna yang terkandung dalam semboyan yang menjadi dasar filosofi pendidikan yang dibuat oleh Ki Hajar Dewantara tersebut.
Dengan jelas dan nyata, semboyan yang menjadi kalimat filosofi pendidikan ini mampu mengantarkan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan. Kemerdekaan yang mampu menunjukkan jati diri dengan tujuan dan arah yang akan dicapai atau diperoleh oleh setiap manusia yang berdiri tegak ditanah air Indonesia. Semboyan yang mengantarkan nama baik pendidikan diIndonesia didepan umum. Pendidikan pun menjadi keinginan warga Indonesia untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Hal ini sesuai dengan persepsi filsafat bagaimana seorang manusia memanusiakan manusia. Dengan begitu dapat terwujud melalui dunia pendidikan.
Posting Komentar untuk "Filosofi Pendidikan KI HADJAR DEWANTARA, Makna dan Tujuan Pendidikan"